Gossip?

Standard

Gossip. Dari topiknya aja udah menarik. Makin di gosok makin sip. Kesedihan atau luapan kegembiraan bisa datang dari ucapan dimulut atau telinga yang lupa menutup diri.
“Eh tau gak lo, ternyata dia itu,…sst…ssst…sssst… ih ternyata dia itu gitu ya,..” gitu deh bunyi omongan orang. Sampe2 ada yang merasa dirinya sering di omongin sama orang jadi phobia sendiri. Mau ngelakuin apa2 jadi ketakutan sendiri..”apa kata orang”…selalu gitu deh.
Gak tau kenapa, gossip itu selalu diterima sebagai sebuah kebenaran yang menggairahkan, kadang bisa memicu kebencian, dan keasyikan tersendiri. Bermain dengan praduga dan desas desus bisa memicu rasa bangga karena..”eh gue udah tau lagi”…”kemana aja lu”…gue juga kadang sebel, karena akibat dari gossip yang beredar, gue jadi berasa gemes sendiri,..”ih kok bisa bisanya dia boong ama gue ya..”
Lucunya kenapa rasa dibohongi yang muncul ya, apakah kebenaran itu sudah sepantasnya kita ketahui atau tidak ya. Kalau kita tidak siap mengetahui tentang suatu kebenaran. Akibatnya kita jadi meradang sendiri. Tau Socrates nggak? Di jaman Yunani kuno, Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanannya yang tinggi.

Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, “Tahukah anda apa yang
baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda?”
“Tunggu sebentar,” jawab Socrates. “Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin anda melewati sebuah ujian kecil.

Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali.”

“Saringan tiga kali?” tanya pria tersebut. “Betul,”lanjut Socrates.

“Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide
yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Kali.

Saringan yang pertama adalah KEBENARAN.
Sudah pastikah anda bahwa apa yang anda akan katakan kepada saya adalah benar?”
“Tidak,” kata pria tersebut,”sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin
memberitahukannya kepada anda”. “Baiklah,” kata Socrates. ” Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak.”

Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu :KEBAIKAN
Apakah yang akan anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang
baik?” “Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk”. “Jadi,” lanjut Socrates, “anda ingin
mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin kalau itu benar.

Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya,yaitu: KEGUNAAN
Apakah apa yang anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?” “Tidak, sungguh tidak,” jawab pria tersebut. “Kalau begitu,” simpul Socrates,” jika apa yang anda ingin beritahukan kepada saya… tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya ?”

Sebuah panah yang telah melesat dari busurnya dan membunuh jiwa yang tak bersalah, dan kata- kata yang telah diucapkan yang menyakiti hati seseorang, keduanya tidak pernah bisa ditarik kembali.

So, gunakanlah Saringan Tiga Kali.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s