Fighting Management

Standard

Check out this, I got this E-mail from milis Funky-Mom, really interesting, karena dlm kehidupan rumtang g yg almost 3 thn, we’ve been through fighting (of course) n kadang its really frustrating, karena prinsip g, g gak akan share masalah rumtangg g ama siapanpun, even my parent, or close girl friend,..karena alasan klasik, g percaya banget Allah tuh Maha Pencemburu, g takut dia jelous klo g curhat ke orang lain, dan bukan dia. So here it is ..(rada gue singkat, dan tata bahasa sedikit g rubah2, biar lebih enak dibaca)

BERTENGKAR,WHY NOT….?
PENTING BGT BUAT KITA DLM BERUMAH TANGGA

Buat Yang Udah Nikah, Mau Nikah, Punya Niat Untuk Nikah Sebarkan kepada
orang2 yang kalian kenal……..mudah2an bermanfaat.

Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah
tangga, kalau ada seseorang berkata: “I never fight with my wife !” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia lagi boong. Yang jelas kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu, sebagaimana lebih menikmati lagi saat saat tidak bertengkar. Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi.
Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.

Etikanya, bahwa kalaupun harus bertengkar, maka :
1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah, cukup seorang saja yang marah-marah, yang telat kasih nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda.
Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika seorang marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya ! Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : “kamu makin cantik kalau marah,makin energik …” Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ….”
Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”, saya menganggap bahwa distorsi hati, jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, sehingga saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya🙂
Maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. Pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada
sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah🙂

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah lalu ( or maksudnya masa lalu kita)
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah.
Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan dan bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah,maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, anggaplah sebagai “ungkapan rindu yang keras”. Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu,awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.
Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah,maka itu adalah “harapan ingin disayangi lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat,plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.
Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah … OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini …..

3. Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga
Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba.
Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun
di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal cinta yang panas ini”.
Kata ayah saya : “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak”. Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma’afnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..”. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usyah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

4. Kalau marah jangan di depan anak-anak.
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu ‘kan bapak saya.

Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :
* Ibu : “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!”
* Bapak : “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, emang saya ini kuda ????!!!!
* Anak : “…… Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda …. terus saya ini apa ?”

Kita harus berani berkata : “Hentikan pertengkaran !” ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan.
Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata bahasa hati kita ???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat
Pada setiap tahiyyat kita berkata : “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa’ibaadilahissholiihiin” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yg sholeh ….
Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal nyawamu ditangan Nya.
OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Illahi …. Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya … Atau habis isya sebatas….??? Nnngg .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar …🙂 Karena di waktu abis itu mendingan..ehem..ehem..tau dong!

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan
Yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens” Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki. Tul ga?

Moral of the story : mudah2an manfaat buat kita semua yah.

15 responses »

  1. belom pernah bertengkar, din..tapi bagus juga buat dibaca-baca,sapa tau berantem ntar hehehe…

  2. wehehe…boleh juga neh..🙂
    ember! jangan sampe cerita sama sapa2 deh klo masalah rumtang, mending ngadu sama DIA aja.

  3. Hmm, kyknya gak pernah berantem tuh, bunda!Adem ayem ajah!

    PLETAAAKKKK!!!!!
    (belum punya suami aja sombong loe!!hihihihihihi)

    resensinya manaaaaaaaaa?!?!?!?!?!

  4. Setuju banget tuch dengan tips nya… untung aja suami aku nga pernah marah dan kita nga pernah berantem…(belum kali ya???)

  5. Yang poin ke 6 kayaknya bisa jadi tuch buat yang lagi pacaran..:)
    Inget2 pesen bunda…:D

  6. Bundaaaaa… tgl 27 bulan depan mo ikutan PESAT gak??? Hehehe😀 –> dari sekarang woro-woronya.
    Jadi, dirimu terdampar di FM juga yak? Samaaaaaaaa😀

  7. Siappppp…langsung dicopy dan difwd kirim ka email suami…hihihihi

    makasih yah udah sharing bunnn
    salam sama yang ganteng Raihan🙂

  8. bener tuuh….
    kalo lagi gag marah inget semua tuuh….cuma kalo lagi esmosi kadang2 suka kelewatan….hehehheheee

  9. huhuhu ternyata berumah tangga g sesimple yg saya bayangkan..
    maklum lom dewasa hehehe..
    tips2na boleh juga niy..

  10. Tips tambahan:
    1. Kalo laki kita lagi marah dan kita emang ngerasa bahwa itu adalah salah kita, kita pasang tampang mesra plus malu-malu aja. Itu loh, tampang dicium pertama kali sama dia, hihihi!

    2. Bertengkarlah sambil telanjang!

    Satisfaction guaranteed!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s