Berita dari istana

Standard

Pagi menjelang, kesegaran menerobos dengan lincah disela dedaunan berlomba dengan angin pagi. Abdullah menyeruput minuman madu yang masih panas dengan perlahan, sedangkan Ali baru keluar dari bilik mushola keluarganya setelah menjalankan shalat fajar.
“Salaam Ayah, selamat pagi.”
“Walaikum salam! Ah anakku Ali, Sungguh aku diberkahi Allah dengan memiliki anak yang tak lepas dari sajadahnya seperti dirimu Ali.”
“Alhamdulillah Ayah, segala pujian hanya kepada Allah semata. Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya.”
“Ha ha ha, seperti biasanya, kau benar-benar sungkan dengan pujian Ali!” Ali duduk di kursi desebelah ayahnya. Taman mawar yang luas dihadapannya menyebarkan keharuman yang sangat menyegarkan. Taman mawar itu selalu mengingatkan Ali akan ibunya yang telah wafat dua tahun yang lalu. Taman mawar ini adalah peninggalan kelembutan dan pancaran kasih sayang dari ibunda Ali.
“Ah kau lihat Ali, ibumu adalah wanita seperti mawar-mawar itu. Cantik dan selalu membawa kesegaran dirumah ini. Apalah arti taman itu tanpa mawar-mawar itu Ali?”
“Kosong dan membosankan Ayah.” Jawab Ali singkat.
“Benar Ali!… begitu pula hidup seorang laki-laki tanpa wanita.”
“Apakah ayah ingin menikah lagi?” mendengar pertanyaan Ali yang spontan Abdulah tertawa terbahak-bahak.
“Oh Ali!!! Aku ini sudah tua dan banyak anak!… ibaratkan taman itu, tamanku telah penuh dengan buah-buahan!” Abdullah masih tertawa geli, sedangkan Ali sudah menangkap maksud dari ayahnya.
“Ali, kau jangan pura-pura bodoh. Kau tahu apa maksud dari “ayah tuamu” ini.”
Ali menghela nafas pendek sambil tersenyum. Abdullah terkejut dengan expresi anaknya saat itu. Tidak seperti biasanya, Ali tersenyum, biasanya dia hanya akan menjawab dengan sikap segan dan wajah penuh keseganan.
“Ayah… Aku tahu, maksud ayah tentang wanita untuk diriku… sebenarnya ayah…” Belum sempat Ali melanjutkan kalimatnya, seorang pelayan menghadap Abdullah dengan sebuah surat ditangannya.
“Dari Raja?” Abdullah membaca surat perintah Raja dengan serius. Lalu dia melipat surat itu dan memandang tajam kearah anaknya.
“Ali, sungguh senyum diwajahmu barusan amat membuatku penasaran, tapi aku harus menunggu jawabanmu dilain waktu, karena Raja memintaku datang sekarang juga.” Ali tertawa melihat kebingungan diwajah ayahnya, “Ya Ayahku, aku akan berada disini jika kau kembali aku tak akan lari dari pembicaraan ini, isnyaallah. Pergilah menghadap Raja Ayah.” Jawaban Ali semakin membuat Abdullah penasaran dan sedikit girang, jika Ali tak menghindar dari pemboicaraan ini, apakah artinya Ali telah menemukan seorang gadis?… Abdullah merasa tersiksa akan rasa penasaran tentang anaknya, tapi dia harus bergegas pergi, karena titah Raja adalah tugas utamanya. Perjalanan dari tempat tinggal Abdullah menuju istana memakan waktu setengah hari dengan kuda yang dipacu kencang. Abdullah tak mau membuang waktu dengan mengendarai kereta kuda, dia menunggang kudanya yang terbaik lalu melesat pergi.


Sesampainya di istana Abdullah diundang minum teh bersama Raja taman. Abdullah tahu, jika Raja bersikap demikian berarti Raja hendak membicarakan sesuatu yang serius.
“Abdullah, assalammualaikum!”
“Walaikum salam Baginda, pagi yang amat segar dan mengherankan saya, apakah gerangan yang membuat Baginda ingin bertemu dengan saya dalam waktu singkat seperti ini?”
“Sungguh Abdullah ada kabar baik kudengar malam tadi, sampai-sampai bulan negeri ini bersinar lebih terang dari sebelumnya!” Abdullah tertegun, ia tahu yang dimaksud Raja adalah Putri Aelia.
“Ah! Subhanallah, berita gembira apakah yang sampai-sampai membuat kecantikan negeri ini bersinar lebih lagi?”
“Bulan negri ini telah menemukan bintang pendamping yang diingininya Abdullah!!”
Seperti semua orang, berita ini sangat mengejutkan Abdullah. Dia mengenal Putri Aelia dari kecil, dibalik kelambutan dan kecantikannya, Aelia memiliki sifat yang keras dan pendiriannya yang kuat. Menyadari kecantikan dan kedudukannya sebagai seorang Putri, Aelia sangat berhati-hati dalam memilih pasangan hidupnya.
“Allohuakbar Ya Raja, benarkah itu? Siapakah pemuda yang sungguh beruntung ini?” Tanya Abdullah dengan mata yang membulat, Rajapun tertawa menggoda Abdullah.
“Hai Abdullah, tak bisakah kau menebak siapa pemuda itu?”
“Sungguh tak mampu saya menerkanya,”
“Ah Abdullah!!! Aku tahu aku sering memintamu datang seperti ini karena aku senang berbicara tentang berbagai masalah padamu karena pengetahuan dan intuisimu sangat tajam. Tapi sungguhkah kau tak bisa menebak siapa pemuda itu?”
“Benar seperti yang Baginda katakan, tak jarang Baginda memanggil saya seperti ini, jika dalam masalah kenegaraan akan mudah bagi saya untuk memberikan terkaan. Tapi masalah yang satu ini sungguh saya tak bisa menerka.”
Mereka terdiam beberapa saat, Raja memberikan kelonggaran waktu untuk bernafas pada Abdullah.
“Sudahkah kau tenang dari keterkejutanmu hai Abdullah?”
“Ah… Ya Baginda, saya baik-baik saja.”
“Adikku bertemu dengan pemuda itu kemarin di hutan daerah kekuasaanmu.” Kembali Raja diam dan menyelidik wajah Abdullah, seperti dugaannya, air muka Abdullah memancarkan keheranan.
“Apakah saya mengenal pemuda ini Baginda?”
“Ya Abdullah, kau mengenalnya dengan baik.” Abdullah semakin keheranan dan penasaran.
“Dia tinggal didaerah kekuasaan saya dan saya mengenalnya, saya pikir sudah tidak ada satu pemudapun di kerajaan ini yang menarik perhatian Putri Aelia.”
“Benar hai Abdullah, tak ada satu pemudapun ‘di kerajaan ini’ yang menarik perhatian adikku, kecuali satu pemuda yang sedari kecil tidak tinggal disini, tapi secara kebetulan dia putra dari negeri ini. Pemuda itu hanya singgah beberapa waktu saja untuk mengunjungi ayahnya yang kebetulan Bangsawan Daerah Selatan.”
Bagai disambar petir Abdullah terperanjat hingga terbangun dari duduknya.

“Ali???!!!” Raja tersenyum simpul lalu menarik Abdullah untuk kembali duduk. Sungguh hari ini penuh dengan kejutan bagi Abdullah, sikap Ali yang lain dari biasanya dan sekarang berita dari Raja tentang anaknya tersebut.
“Ali abdul Jabbar bin Abdullah adalah nama pemuda itu, dan dia adalah putra keduamu.”
“Ya dia putra saya, tapi maaf Baginda, bagaimana Putri bisa mengenal putra saya?”
“Seperti yang kukatakan sebelumnya, adikku bertemu dengan putramu kemarin siang disaat dia berkuda dihutan. Tampaknya pertemuan yang amat singkat itu membuat adikku terpikat dengan putramu. Jadi sekarang kau tentu tahu kemana arah pembicaraanku Abdullah.”
“Ya, tapi saya tidak berani memberikan jawaban apapun saat ini, karena keputusan itu ada ditangan putra saya.”
“Hum, aku mengerti Abdullah. Sampaikan pinanganku ini kepada Ali. Kabari aku selekasnya setelah kau mendapatkan jawaban Ali. Sekarang bergegaslah kau kembali, karena seperti adikku dan dirimu, aku tak sabar untuk mendapat jawaban Ali.”
Abdullahpun undur diri dengan membawa beban berat dipundaknya. Ia mengenal sekali akan tabiat putranya yang selalu menolak lamaran yang datang kepadanya. Abdullah merasa khawatir akan penolakan yang mungkin datang dari Ali, tapi dia teringat akan senyum Ali pagi tadi. Apakah mungkin pertemuan Ali dan Putri Aelia itu yang ingin disampaikan Ali? Ah Bisa jadi!!! Pekiknya girang dalam hati. Siapa yang tak akan terpesona oleh kencantikan Putri Aelia, mentaripun akan turun jika Putri Aelia menerima lamarannya. Abdullah pulang dengan menghibur diri sendiri akan pertemuan Putri dan Ali.

Matahari telah lama meninggalkan takhtanya ketika Abdullah sampai tempat tinggalnya. Ali masih terjaga menanti kepulangan Abdullah. Secangkir kopi dan sepiring makanan ringan telah disiapkan Ali, dia tahu benar ayahnya tak akan pergi tidur sebelum rasa penasarannya hilang.
“Assalammualaikum Ali,”
“Walaikum salam Ayah, ada sesuatu yang hebatkah yang ayah dengar dari Raja hari ini? Wajahmu tampak lebih bingung daripada disaat kau berangkat tadi.”
Abdullah merebahkan tubuhnya yang gembul sambil menghela nafas panjang sekali, “Ayah sebaiknya kau langsung istirahat, kau tampak lelah sekali.” Kata Ali kemudian.
“Ah tidak…tidak!” Abdullah menggoyangkan tangannya dengan kencang,
“Oh Ali anakku, aku tak akan mampu tidur dengan nyenyak sebelum berbicara padamu!” Ali tersenyum simpul, seperti biasa, dugaannya benar.
“Ali, aku ingin bertanya padamu…” Abdullah menyeruput kopinya untuk menenangkan dirinya.
“Ya Ayah, apakah itu?”
“Benarkah kemarin kau bertemu dengan Putri Aelia di hutan?” Abdullah menatap tajam berharap menangkap perubahan wajah Ali,
“Astagfirullah!! Ya, hal itu benar. Maaf aku tidak sempat menyampaikan salamnya pada Ayah, aku benar-benar lupa, apakah Putri bertanya tentang hal itu diistana tadi? Sungguh bodoh diriku karena lupa menyampaikan amanah darinya. Lain kali ayah bertemu dengannya, tolong sampaikan maafku.” Jawab Ali dengan rasa sesal yang kentara, Abdullah tersenyum simpul, anaknya memang selalu panik jika lupa menyampaikan amanah siapapun. Tapi bukan perubahan expresi wajah ini yang diharapkan Abdullah.


“Kurasa kau harus menyampaikannya sendiri dilain waktu, karena. Ehm…..Bagaimana menurutmu tentang dia?”
“Seperti yang telah tersebar diseluruh negeri, dia wanita yang luar biasa kecantikan wajah dan parasnya. Alhamdulillah.”
“Apakah kalian lama berbicara?”
“Tidak Ayah, aku harus segera pulang karena aku berjanji kepada ayah.”
“Apa yang kalian bicarakan?”
“Ayah, sungguh dia hanya bertanya dan aku menjawab pertanyaan beliau, dan pada saat itu aku terburu-buru.” Abdullah menghela nafas setengah mengeluh, kekhawatirannya semakin menjadi. Dengan perlahan dia melanjutkan,
“Ali anakku, kau ingat tentang mawar dikebun?”
“Ya, pembicaraan kita yang terputus pagi ini.” Jawab Ali singkat.
“Apakah Putri Aelia bisa menjadi mawar dikebunmu Ali?” Mendengar itu Ali tersenyum tertawa karena dia pikir Abdullah sedang bercanda untuk menggodanya.
“Ah Ayah!… jangan bercanda, dia seorang putri yang semua Raja diseluruh dunia ingin memilikinya. Apalah aku ini!”
“Ali, aku tidak bercanda.” Jawaban Abdullah yang singkat dan serius menghentikan tawa Ali. Dengan wajah penuh harap Abdullah menjelaskan,
“Baginda hari ini memanggilku untuk menyampaikan maksud hati sang Putri padamu.” Ali sangat terperanjat, matanya yang bulat semakin bulat sedangkan mulutnya terkatup rapat. Kemudian suasana membeku untuk beberapa saat. Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam, Abdullah menghela nafas panjang dan tubuhnya semakin lemas menempel dikursinya. Ia tahu tundukan kepala Ali berarti berita buruk. Beberapa saat kemudaian, dengan tenang Ali menatap ayahnya dalam-dalam dan berkata dengan perlahan.
“Masya Allah Ayah, ini berita yang sangat mengejutkan. Aku sungguh tidak menyangka pertemuanku yang sedemikian singkat dengan Putri akan menimbulkan hasrat pada hatinya. Tapi ayah…” Abdullah memotong kalimat Putranya dengan gusar,
“Ali, alasan apakah lagi saat ini yang kau ingin ajukan? Kau telah terlalu lama dan banyak menolak pinangan dari negeri ini, bahkan dari negeri tempat kau tinggal. Apa lagi yang kau inginkan? Saat ini yang meminangmu adalah seorang putri yang tidak hanya luar biasa kecantikannya, tapi juga kecerdasan otaknya.” Dalam hati Ali sedikit sedih melihat kekecewaan diwajah Abdullah, dengan suara semakin direndahkan Ali kembali berbicara.
“Ayah, sesungguhnya pagi ini sewaktu ayah bertanya, aku ingin menyampaikan kabar kepadamu bahwa aku telah bertemu dengan seorang gadis.” Dugaan Abdullah benar adanya tentang senyum yang tersungging di bibir Ali pagi itu.
“Ali, apakah gadis ini parasnya secantik Putri Aelia?”
“Tidak, dia memang cantik, tapi tidak ada yang mampu menandingi kecantikan paras Putri Aelia ayah.”
“Lantas tidak bisakah kau merubah keputusanmu tentang gadis itu?”
“Maaf ayah, tidak.”
“Mengapa Ali?”
“Karena aku bersumpah untuk menikahinya atas nama Allah.”
“Ah Ali, aku tahu sumpah itu sangat besar tapi…apakah karena sumpah itu saja sehingga kamu menolak lamaran Putri Aelia?”
“Bukan hanya itu Ayah, jikapun aku tidak bersumpah kepada gadis itu, aku akan tetap memilih dia daripada Putri Aelia.” Abdullah tertegun, kepastian kata-kata Ali menimbulkan rasa sangat penasaran dihatinya pada gadis yang dimaksud anaknya itu. Apa kelabihan gadis itu dibanding Putri Aelia, seberepa luar biasakah sosok gadis ini? pikirnya.
“Apakah dia datang dari keluarga bangsawan?” Selidik Abdullah lebih lanjut.
“Tidak, dia dari keluarga yang biasa saja.” Jawab Ali singkat. Abdullah berdiam diri beberapa saat, lalu dengan nada lembut dia berkata,
“Ali, Ayah mohon… ini adalah permintaan Raja, tolonglah ayah untuk mempertimbangkan keputusanmu lagi. Jika gadis itu benar mencintaimu, ayah yakin dia akan melepaskanmu dengan rela.” Mendengar permohonan ayahnya wajah Ali mengeras. Dengan pandangan lesu dan penuh penyesalan Ali menolak,
“Ayah, maafkan jika anakmu tidak berbudi. Tapi ayah, ayah memiliki alasan sendiri dalam keputusan ayah untuk menikahi ibu, begitupun diriku. Demi Allah aku telah bersumpah akan menikahi dia, dan aku akan melaksanakan sumpahku karena rasa takutku pada Allah, selain dari itu ayah, aku sungguh mencintai gadis itu. Jika aku menikah, aku hanya ingin menikah dengan gadis seperti itu atau tidak sama sekali, insyaallah. Dan Putri bukanlah gadis seperti dia.” Abdullah menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya dalam sehari. Dia tahu jika Ali telah mengatakan Demi Allah, maka taka akan ada yang dapat merubah keputusannya. Dengan lembut Ali mengusap pundak ayahnya

“Ayah, maafkan aku. Tapi keputusan seorang Putri dan Raja tak akan dapat merubah sumpah yang telah kuucapkan karena Allah. Sungguh aku takut kepada Allah.”
“Ali anakku, aku mengerti. Sungguh kau benar-benar mencintai gadis itu hingga kau berani bersumpah atas nama Allah. Akupun takut kepada Allah.” Mendengar keikhlasan dalam kalimat Abdullah, Ali merasa sangat lega. Kemudian Abdullah melanjutkan,
“Katakan padaku siapa nama gadis itu dan dari mana asalnya. Sudah berapa lama kalian mengenal satu sama lain?”Akhirnya expresi wajah yang ditunggu Abdullah tampak diwajah Ali sewaktu menyebutkan nama gadis yang mematahkan pinangan Raja dan Putri Aelia.
“Zanimra, gadis dari belahan bumi seberang, dari Madagashphur. Aku mengenalnya hanya dalam waktu singkat, tapi masyaallah dialah gadis yang aku cari selama ini, ayah.”
Abdullah tertegun beberapa saat, diluar dugaannya nama gadis itu tidak mencerminkan nama Islam. Dia semakin penasaran dengan Zanimra, calon menantunya yang mampu mendahului Putri Aelia.
“Ali, hiburlah ayahmu dari kekecawaan ini, undanglah Zanimra kemari.”
“Baik ayah, aku akan memintanya datang.”
“Segera Ali, kapan dia bisa datang?”
“Perjalanan dari negerinya memakan waktu beberapa hari, tapi ayah bersabarlah. Insyaallah dia pasti akan datang jika ayah yang mengundang.”
“Ah sungguh berat!…Aku tak tahu harus bagaimana menyampaikan berita ini pada Raja, aaaahhh sungguh berat!!….” Abdullah menggelengkan kepalanya keras-keras. Ali merasa menyesal membuat ayahnya kecewa, tapi dia tahu Abdullah mendukung keputusannya.
“Ayah, jika ayah berkenan, aku pribadi yang akan menyampaikan jawabanku pada Baginda Raja atau Putri sendiri.”
”Hai anakku, sungguh itu hal yang baik. Akan kubawa kau besok menghadap Raja, sekarang aku benar-benar lelah.” Abdullah beranjak dari tempat duduknya, dia berlalu kekamarnya sambil menepuk-nepuk pundak Ali. Sambil lalu dia berkata “Ali, aku mendukung keputusanmu.” Mendengar perkataan ayahnya yang terakhir Ali merasa tenang.


Permintaan Raja

Udara taman keputrian sangat segar pada pagi hari, bunga yang bermekaran sangat cantik terpuruk malu ketika Putri Aelia memasuki taman itu dengan riang. Kegirangan diwajahnya sungguh membuat kecantikannya semakin bersinar. Dari pagi hingga malam senyumnya membias tak pernah surut. Nama Ali terus terucap lirih dibibirnya. Raja memperhatikan adiknya dari kejauhan dengan rasa senang. Belum pernah selama hidupnya melihat adiknya benar-benar merasa bahagia semenjak kepergian ayah bundanya. Raja merasa yakin Ali tak akan menolah keinginan adiknya, terlebih lagi Putri Aelia terkenal selain dengan kecantikan parasnya juga kecantikan tingkah lakunya kepada sesama. Dia gadis yang baik dan sangat cantik, tak akan ada seorang pemudapun yang akan menolaknya.

Tiba-tiba seorang punggawa kerajaan membuyarkan lamunannya. “Baginda, Abdullah beserta putranya hendak menghadap.” Dengan girang Raja memerintahkan kedua orang yang dinantinya untuk menemuinya di taman umum kerajaan, tempat biasa dia bercengkerama dengan Abdullah. Setelah Punggawa itu pergi raja memanggil adiknya.
“Aleia, ikutlah denganku.”
“Baik kakak,” sambil berjalan Aelia melihat senyum diwajah kakanya, “Kak ada apa?” Raja hanya menggelengkan kepala, beberapa langkah dari taman Raja menunjuk kearah dua sosok tubuh yang sangat dikenal Putri. Jantung Putri hampir berhenti melihat sosok Ali yang berdiri tak jauh dihadapannya, lututnya menjadi lemah lunglai seketika.
“Ali…” bisiknya lirih dengan bibir gemetar. Raja membimbing adiknya untuk mendekat, tapi tubuh putri mematung seperti es.
“Kakak, aku takut tak mampu menguasai diriku, biarkan aku disini. Temuilah mereka dan kabarkanlah padaku berita yang terucap dari bibir Ali.” Raja mengangguk, lalu berlalu mendekati kedua sosok Ali dan Abdullah yang belum menyadari kehadiran Raja dan Putri, sementara itu putri bersembunyi dibalik rerumpunan mawar yang merambat. Dengan debaran jantung yang semakin mengeras Putri Aelia menunggu kakaknya, pandangan matanya tak sekejappun lepas dari sosok Ali.

Beberapa langkah mendekati Abdullah dan Ali, Raja merasakan sesuatu yang kurang menyenangkan ketika dia menangkap mata Abdullah yang sayu. Setelah mereka bertiga duduk Raja memperhatikan Ali dalam waktu yang cukup lama.
“Ah, rupanya inilah pemuda yang membuat adikku melayang diatas awan dan menari dilintasan pelangi.” Goda sang Raja pada Ali. Ali tersenyum gugup, tapi Abdullah lebih gugup lagi.
“Ali, berbicaralah padaku. Bagaimana menurutmu tentang Aelia.”
“Baginda, Putri adalah wanita dengan paras tercantik yang pernah saya temui didunia ini.” Raja tersenyum simpul. Tapi dia menangkap nada datar dari kata-kata Ali, hal itu membuatnya sedikit gusar.
“Dan menurutmu, apakah dia akan menghibur seorang laki-laki sebagai istri?”
“Bagi pria yang menikahinya dia adalah berkah dari Allah.”
“Ah, jadi menurutmu dia berkah dari Allah bagimu!” Sahut Raja tajam. Abdullah hendak angkat bicara, tapi kemudian Ali mendahului dengan tenang.
“Dengan segala kerendahan hati dan beribu maaf, Ayah telah menyampaikan maksud Raja dan Putri kepada hamba, tapi dengan berat hati saya tidak dapat menerimanya.” Wajah Raja mengeras dan nada suarannya semakin merendah menahan getaran hatinya.
“Hai Ali, apakah yang menyebabkan kamu menolak adikku?”
“Karena saya takut kepada Allah.” Raja tertegun, mendengar kata Allah kegeramannya sedikit mereda.
“Apa maksudmu?”
“Alasan saya tidak dapat menerima pinangan ini karena Saya telah mengangkat sumpah atas nama Allah pada seorang gadis sebelum bertemu Putri. Saya telah bersumpah untuk menikahi gadis itu. Dan saya tidak mungkin melanggar sumpah tersebut karena saya takut kepada Allah.”
“Hemh… kau takut kepada Allah karena sumpahmu aku bisa memahami, tapi jika gadis itu mau melepaskanmu dengan rela, apa yang akan kau lakukan Ali?”
“Tetap saya tidak dapat melanggar sumpah melainkan jika Allah berkehendak dia yang memutuskan untuk meninggalkan saya karena saya berbuat aniaya padanya. Sungguh saya takut kepada Allah, karena Allah berfirman dalam kitab-Nya,

Q.S. An Nahl:91. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

Q.S. Al Baqarah : 225. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.
“Bagaimana jika gadis itu pergi meninggalkanmu?”
“Allah yang Kuasa atas segala kejadian dimuka bumi, saya percaya padanya. Sebagaimana saya telah bersumpah atas nama Allah, diapun telah berjanji atas nama Allah untuk menanti dan menikahi saya.”
“Baiklah Ali, aku mengerti maksudmu. Bagaimana jika kau tak terikat sumpah dengan gadis itu?”
“Maaf, dengan sejujurnya Saya yang tak akan rela melepaskan diri saya dari gadis itu Baginda.” Baginda terhenyak, seperti apakah gadis yang mengalahkan hasrat Ali dari kecantikan adiknya.
“Jadi, tanpa sumpah-pun kau akan tetap menolak adikku?”
“Jika saya telah bertemu dengan gadis itu, gadis manapun dibumi akan saya tolak. Tapi jika saya belum bertemu dengan gadis itu, demi kebaikan ayah, saya akan menerima Putri sebaga istri saya.” Seperti halnya Abdullah, Raja sangat penasaran dengan gadis yang mengikat hati Ali.
“Begitu besarkah cintamu pada gadis itu Ali? Mengapa kalian begitu berani mengadakan perjanjian sekuat itu?”
“Demi ketenangan jiwa kami bedua, Baginda.”
“Sungguh mengherankan kepercayaan kalian berdua pada satu sama lain.”
“Sebenarnya yang kami percayai bukanlah diri kami, tapi Allah semata. Saya memegang janji yang diucapkannya karena Allah, dan dia memegang sumpah yang saya ucapkan karena Allah. Pada Allah sajalah kami menaruh kepercayaan penuh.”
“Baiklah Ali, sungguh aku amat sangat menyayangkan hal ini. Aku menghargai keputusan dan pendirianmu. Tapi demi kebahagiaan adikku, aku akan memperjuangkan dirimu untuk menikahinya. Buatlah aku mengakui bahwa gadis pilihanmu itu jauh lebih baik dari Aelia, maka aku akan rela merestui pernikahanmu dengan gadis itu. Tapi jika ternyata dia tidak lebih baik dari Aelia, aku tak ingin kau kembali kenegeri ini karena airmata adikku yang akan terus mengalir. Undanglah gadis itu untuk tinggal diistana ini sebagai tamu kerajaan.” Mendengar titah Raja, Abdullah merasa gusar, dia melirik kepada Ali, diwajah anaknya terlukis ketenangan dan keyakinan yang luar biasa. Keyakinan Ali membuatnya semakin bertanya-tanya tentang Zanimra, sebesar itu keyakinan Ali tentang gadis pilihannya, bahkan dihadap Raja sekalipun.
“Jika itu kehendak Baginda, saya akan melaksanakannya. Sampaikan perasaan penyesalan saya yang terdalam kepada Putri Aelia, semoga Allah memberinya keselamatan dan rahmat.” Kemudian Raja meminta Ali meninggalkan beliau dan ayahnya sendiri. Setelah Ali berlalu Raja berkata dengan penuh kesedihan pada Abdullah. Terbayang dimatanya tangis Putri Aelia karena rasa kecewa.

“Ah Abdullah, ternyata selama ini julukan Pemuda Es atas anakmu ini benar adanya. Sayang sekali aku tak bisa mengikat tali kekerabatan denganmu.”
“Maafkan saya Baginda,”
“Yah, aku tak menyalahkanmu Abdullah, hanya saja aku tak bisa melihat air mata adikku satu-satunya. Pahami keputusannku untuk mengembalikan kepercayaan adikku atas dirinya, satu-satunya jalan adalah hanya dengan mempertemukan dua putri ini dalam satu ruangan. Siapa tahu Ali memang benar akan pilihannya dan adikku bisa belajar sesuatu dari gadis tersebut. Aku hanya berharap cara ini akan membuat adikku rela melepaskan anakmu ini, Abdullah.”
“Saya mengerti dan saya yakin putra saya juga memahaminya.”
“Ya! Ya!… aku kagum pada putramu, tapi keyakinan diwajahnya terhadap gadis ini benar-benar membuatku penasaran. Seperti apakah gadis itu yang bisa membuat mata anakmu berpaling dari keajaiban kecantikan adikku? Abdullah, titahku pasti, bawalah gadis itu sebagai tamu istanan ini.”
“Titah Baginda akan saya laksanakan, insyaallah dalam beberapa hari Zanimra akan tiba dikerajaan ini.”
“Ah jadi itu namanya… darimana dia berasal?”
“Dari kerajaan Madagashphur.”
“Bukankah itu kerajaan Hindu??”
“Ya, benar. Tapi dia gadis muslim sejak lahir.”
“Baiklah, biarkan aku menilainya setelah aku bertemu dengannya. Sekarang sebaiknya kau cepatlah berlalu karena adikku sedang menunggu dibalik semak mawar itu….aahh…..bagaimana caraku menyampaikan berita ini pada Aelia hai Abdullah…” Abdullah menganggukkan kepalanya lalu berlalu.
Melihat Abdullah pergi, Putri Aelia berlari menghampiri kakaknya.
“Ah adikku bulan negeri ini, duduklah.”
Aelia dengan patuh duduk dihadapan kakaknya.
“Aelia…walaupun kita ini orang terpenting dikerajaan ini, tapi tentu kau sadari bahwa kita tidak dapat memaksakan kehendak kita…” Sungguh dirasa sangat berat dada Raja ketika melihat mata wajah adikknya memucat seputih melati.
“Aelia, tabahkan hatimu, ternyata …”
“Ali… menolakku…” Air mata Putri mengalir membasahi pipinya yang memucat, rasa sakit dihatinya begitu pilu.
“Duhai kakak, kenapa aku merasa begitu hancur seperti ini? Mengapa aku merasa sangat bahagia pada semula waktu dan merasa mati disaat ini. Aduhai… pedih sekali rasanya.”
Raja memeluk kepala adiknya dengan lembut, tangis adiknya seperti pisau menyayat ulu hatinya. Sungguh jika dia bukanlah raja yang bijak, kekuasaan ditangannya akan dia gunakan demi kebahagiaan adiknya.
“Bersabarlah wahai adikku, dengarkan aku. Pintu belumlah sepenuhnya tertutup. Dengarlah.” Lalu Raja menceritakan rencananya untuk mengundang Zanimra, dia yakinkan bahwa ini adalah kesempatan kedua bagi Putri untuk merubah keputusan Ali.
“Aku ingin bertemu Ali Kak, ijinkan aku tinggal diwilayah selatan untuk berada dekat dengannya.”
“Jika itu bisa membuatmu senang, pergilah. Tapi ingat, sebagai manusia kita tak boleh memaksakan kehendak atas manusia lain.”
“Aku mengerti.”
Pada malam itu juga Putri Aelia pergi ke wilayah selatan dengan membawa harapan mampu merubah keputusan Ali.

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s