Dialog Zanimra dan Raja

Standard

Abdullah dibangunkan oleh sebuah ketukan dipintu kamarnya, seorang pelayan masuk dengan seragam yang rapi dan sisiran rambut yang licin. Pelayan itu menyampaikan undangan Raja untuk sarapan di ruang makan pribadinya.
“Hmm, hanya aku sendiri?” Lalu Abdullah bergegas mempersiapkan dirinya. Dalam perjalanan menemui Raja, Abdullah menyempatkan diri untuk menengok keadaan Zanimra, tapi Abdullah tak menemukan Zanimra dikamarnya.
Raja menyambut Abdullah dengan secangkir teh sajian pagi yang masih hangat.
“Assalammualaikum Baginda.”
“Walaikum salam Abdullah, duduklah dan temani aku.”
“Terima kasih Baginda.” Setelah duduk, Abdullah dan Raja menyantap hidangannya. Setelah selesai Raja memulai pembicaraan tentang Zanimra.
“Baiklah Abdullah, aku telah lama mengenalmu, kau seperti ayahku sendiri. Kau laki-laki yang jujur dan adil. Ceritakan padaku tentang Zanimra dan apa pendapatmu.”
“Terima kasih atas kepercayaan Baginda. Bulan amatlah cantik dan bercahaya, semua orang yang memandangnya akan mengagumi dan memuji. Sedangkan matahari, tak satupun yang memandangnya atau memuji keindahannya, tapi cahaya bulan masihlah kalah dari cahaya matahari.” Raja tertegun mendengar perumpaan yang diajukan Abdullah.
“Jadi, Zanimra tak secantik Aelia, tapi cahayanya jauh lebih terang. Ceritakan padaku, apa yang membuatmu memiliki penilaian demikian.”
Abdullah lalu menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya sepanjang perjalanan menuju istana. Ketika Abdullah selesai dengan penuturannya Raja berdiri dari duduknya dan berjalan mondar-mandir dengan gusar. Abdullah memahami reaksi rajanya. Kemudia Raja kembali duduk dan memandang tajam Abdullah.
“Apakah kebenaran yang kau katakan tadi hai Abdullah?”
“Demi Allah, begitulah adanya Baginda.”
“Masyaallah, tak mungkin usia gadis itu sama seperti Aelia!”
“Memang usia Zanimra tiga tahun lebih tua.”
“Tidak Abdullah, Zanimra seharusnya jauh lebih tua, bahkan mungkin lebih tua dari usiamu!” Abdullah tersenyum geli, ada rasa bersalah dalam hatinya karena Raja tampak gusar menyadari kelebihan Zanimra. Seperti dugaannya, Raja dengan mudah dapat menangkap kelebihan yang dimiliki Zanimra, cahaya yang tidak dimiliki Putri Aelia itulah yang membuat Ali merasa yakin akan keputusannya.
“Baiklah, dimanakah dia sekarang?”
“Maaf Baginda, pagi ini saya belum sempat menemui Zanimra.”
“Hem, perintahkan dia untuk bergabung bersamaku setelah makan siang untuk berkeliling kota.”
“Titah Baginda akan saya laksanakan.”
“Sekarang kau boleh pergi, terima kasih Abdullah, Assalammualaikum.”
“Terima kasih kembali, walaikum salam.” Abdullah bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Baginda mengerutkan dahinya, dia merasa takjub dengan penuturan Abdullah. Untuk seorang gadis seusia Zanimra jalan pikirannya sangatlah unik dan tak biasa. Yang paling membuat Raja heran adalah kepercayaan diri dan ketenangan Zanimra.

Tepat setelah makan siang Abdullah dan Zanimra menghadap Raja. Disana Raja dan Putri Aelia telah menunggu.
“ Assalammualaikum Zanimra, selamat datang di kerajaan kami.” Sambut Raja dengan ramah.
“Walaikum salam, saya sangat berterima kasih dan merasa terhormat atas undangan Baginda.” Sahut Zanimra dengan senyum. Dari cara bicara Zanimra, Raja dapat menangkap ketenangan dan kepercayaan diri yang amat kuat.
“Bagaimana menurutmu tentang kerajaanku Zanimra?”
“Subhanallah. Seperti yang telah tersohor, kerajaan Baginda adalah kerajaan yang makmur dan kaya.”
“Dan bagaimana menurutmu istanaku?”
“Subhanallah, Allah menurunkan keindahan yang mengagumkan diistana ini.”
“Apa yang menurutmu paling indah di istana ini?”
“Sejauh yang dapat saya temui sepanjang hari ini, Putri Aelia adalah keindahan utama dunia yang Allah turunkan di istana ini.” Raja dan Putri Aelia terkejut mendengar jawaban yang tak terduga dari Zanimra.
“Mengapa demikian?”
“Karena belum pernah saya temui suatu keindahan dari ciptaan Allah yang lebih indah dari Putri Aelia.” Jawab Zanimra kembali dengan jujur tanpa ada kesan nada menjilat.
“Ah, jujurkah kau atau sekedar memujiku Zanimra?” Sahut Putri dengan senyum yang semakin membuatnya menyilaukan.
“Demi Allah, sesungguhnya saya memuji Allah atas kebesaran-Nya yang nampak padamu Putri. Maha Suci Allah yang MenciptakanMu.” Putri merasa malu mendengar jawaban Zanimra.
“Apa yang akan kau lakukan jika kau memiliki kecantikan seperti yang dimiliki adikku Zanimra?” Tanya Raja kemudian.
“Saya akan sangat takut.” Raja dan Putri kembali dibuat terkejut dengan pernyataan Zanimra.
“Sungguh kau gadis yang aneh, dari seluruh gadis dimuka bumi mengharapkan kecantikan seperti Aelia, tapi kau malah sebaliknya. Katakan padaku alasanmu.” Pinta Raja kemudian.
“Saya takutkan, karena dengan kecantikan itu akan bertambah beban saya dalam perjuangan melawan tipu daya setan dan nafsu saya sendiri. Dengan kecantikan yang demikian, akan sulit bagi saya menghindar dari berbagai pujian. Dan sesungguhnya pujian adalah sangat jahat bagi jiwa, karena ia sungguh memabukkan dan dapat mengikis iman. Dari pujian pulalah tumbuh rasa kesombongan, dan sesungguhnya ‘kesombongan’ adalah sebab terkutuknya iblis hingga akhir jaman. Sungguh saya takutkan hal itu terlebih lagi segala pujian itu Hanya Milik Allah.”
Mendengar jawaban Zanimra, Raja tersenyum getir, ujarnya kemudian,
“Demi Allah, Hai Abdullah, sungguh aku melihat apa yang kau lihat dari gadis ini.” Putri memandang Zanimra dengan rasa semakin enggan.
“Baiklah Zanimra, kurasa Abdullah telah menyampaikan undanganku kepadamu untuk menemaniku berkeliling kota kerajaan.”
“Betul Baginda, terima kasih atas undangannya, saya merasa sangat terhormat.”
“Baiklah, mari kita berangkat sekarang.”

Akhirnya Raja beranjak dari singgasananya diikuti Abdullah, Zanimra dan beberapa petinggi kerajaan, sedangkan Putri tinggal di istana.
Selama perjalanan Raja terus memperhatikan tingkah laku Zanimra, seperti yang dikatakan Abdullah, Zanimra lebih banyak diam sepanjang perjalanan dan mimik wajahnya selalu berubah-ubah seperti layaknya seseorang yang sedang menikmati drama panggung. Raja seperti melihat dirinya sendiri pada Zanimra. Sama halnya dengan dirinya, bagi Zanimra setiap kejadian kecilpun yang dia temui dimanapun dirasakan sangat menarik baginya. Dari kejadian-kejadian kecil itu dapat diambil banyak pelajaran dan hikmah kehidupan. Hal inilah yang pertama kali diajarkan ayahnya pada Raja sebagai dasar kepemimpinan seorang Raja. Pada sore hari rombongan Raja kembali ke istana kecuali Abdullah, dia harus tinggal di kota untuk menyelesaikan beberapa urusan hingga malam. Setibanya di istana, dengan rasa penasaran Raja akhirnya bertanya pada Zanimra.
“Zanimra, selama perjalanan aku memperhatikanmu. Kulihat pikiranmu selalu sibuk dengan perubahan demi perubahan yang kulihat dari mimik wajahmu dan gerakan bibirmu yang terus menerus. Maukah kau ceritakan padaku mengapa kau demikian?”
“Pikiran saya terus sibuk karena mata saya tak henti-hentinya menangkap hal-hal yang menarik terjadi sepanjang perjalanan ini. Bibir saya selalu bergerak karena timbul oleh rasa tasbih kesyukuran atau istighfar ketakutan dari segala sesuatu yang saya lihat.”
“Sesungguhnya aku mengerti apa maksudmu karena Zanimra, yang sebenarnya ingin kuketahui, siapakah yang mengajarkanmu untuk berbuat demikian?”
“Saya mendapatkan hikmah tersebut dari Allah melalui kitab-Nya Al-Qur’an Baginda.”
“Sungguh Al-Qur’an telah mengajarkanmu suatu kebijakan.”
“Tidakkah Al Qur’an mengajarkan hal yang sama pada Baginda?” Baginda tertegun, dia menyadari bahwa sesungguhnya Raja jarang benar-benar membaca Al Qur’an. Kesibukannya dalam menjalani kerajaan membuatnya hampir tidak sempat untuk membaca kitabullah itu. Semua ilmu yang dia dapat dalam kepemimpinan dan kerajaan dia pelajari dari ayahnya dan petinggi negara serta pengalaman hidupnya.
“Sungguh aku malu padamu Zanimra, tapi ketahuilah kesibukanku sebagai raja seringkali menahanku darinya.”
“Masyaallah, sungguh dalam Al-Qur’an terdapat obat bagi semua penyakit dan petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

Q.S Al An’Aam : 155. Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan ini, penuh keberkatan, hebat kegunaannya. Karen itu ikutilah petunjuk Tuhan di dalamnya, dan bertaqwalah menjauhi larangan-Nya, semoga kamu diberi rahmat.”

“Tapi Zanimra, Al-Qur’an adalah sebuah kitab agama, apa yang bisa kutemui didalamnya tentang cara menjalankan suatu pemerintahan bernegara?”
“Sungguh Nabi Muhammad adalah pemimpin yang menyatukan seluruh tanah Arab dalam waktu yang sangat singkat dan Beliau adalah jendral perang yang luar biasa, pembimbing Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Qur’an. Qur’an bukanlah kitab yang mengatur hablum minallah (hubungan antara Tuhan dan manusia) saja, tapi juga mengatur hablum minan-naas (hubungan antar sesama manusia).”
“Zanimra, seperti yang kau lihat, walau bagaimanapun aku berhasil membawa kerajaan ini dalam kemakmuran. Apakah menurutmu yang kuperbuat belum cukup?”
“Saya akui kerajaan ini sangat makmur dengan kekayaan yang berlimpah, tapi apakah ini saja yang Baginda kejar?” Tanya Zanimra dengan sangat hati-hati. Baginda mengernyitkan alisnya,
“Apa maksudmu kemakmuran ini tidak cukup bagi rakyatku? Kerajaanku walau kecil adalah kerajaan kaya dan rakyatku hidup dalam kemakmuran.”
“Benar sekali, saya akui demikian adanya. Tapi seberapa kekalkah kehidupan dunia ini Baginda? Apakah terlupa dari ingatan, bahwa tujuan akhir manusia adalah negeri Akhirat? Manakah yang lebih baik, kehidupan dunia atau akhirat?” Baginda terhenyak dengan pertanyaan Zanimra. Zanimrapun melanjutkan,
“Kekayaan dan kemakmuran yang ada pada dunia ini pada saatnya akan ditinggalkan, lalu kepada siapakah kita akan dikembalikan? Sungguh apa yang Baginda raih saat ini hanyalah keberhasilan dunia yang bersifat sementara. Apakah hanya sampai sini akhir perjalanan Baginda?”
“Zanimra!” kecam Raja tiba-tiba. Dia terkejut dengan keberanian Zanimra dalam mengajukan pernyataan yang mempertanyakan kebijaksanaannya dalam menjalankan roda pemerintahan.
“Maafkan saya jika saya menyinggung perasaan Baginda, saya hanya berbicara sebagai seorang hamba Allah. Kerajaan ini adalah kerajaan mayoritas perpenduduk Islam, tapi sangat disayangkan jika roda pemerintahan jauh dari Islam itu sendiri. Saya sungguh sedih, saya datang dari kerajaan Hindu, kebebasan kami dalam menjalankan ibadah beragama sangat terbatas, tapi alhamdulillah, kebanyakan muslim yang berada dinegeri saya jauh lebih mencerminkan ke-Islamannya daripada dikerajaan ini.”
“Zanimra, sungguh berani kau menyampaikan kritik tajam padaku. Tidak adakah sedikit rasa takutpun padamu terhadap Raja seperti aku ini?”
“Demi Allah saya menghormati Baginda sebagai seorang pemimpin, tapi hanya pada Allah sajalah seluruh makhluk itu harus takut, karena Allah adalah Raja dari segala raja.

Qur’an Surat Al Mu’minuun:116. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) `Arsy yang mulia.”
Kembali Raja tergagap, tak terbayang olehnya ada seorang gadis biasa yang begitu berani pada seorang Raja seperti dirinya.
“Dan bolehkah saya bertanya pada Baginda, takutkah Baginda kepada Allah?”
“Tentu saja aku takut!”
“Sesungguhnya seorang pemimpin seperti Baginda akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah di hari Perhitungan nanti. Apakah dalih Baginda jika Allah bertanya pada Baginda dengan apakah dan bagaimanakah Baginda memimpin rakyat? Mengapa rakyat yang Baginda pimpin jauh dari jalan Allah sedangkan mereka beragama Islam?” Mendengar pertanyaan Zanimra tubuh Raja bergetar hebat.
“Lihatlah disekeliling Baginda, para wanita dari rakyat baginda berjalan dengan setengah telanjang di hampir seluruh penjuru kota. Padahal kita tahu perintah dari Allah, dalam Surat An-Nuur:31

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. “

Para laki-laki memakai jubah sutra hingga menyapu tanah. Sungguh seperti inikah ajaran Islam? Memakai perhiasan emas hampir diseluruh bagian tubuh yang nampak,
Diriwayatkan daripada al-Bara’ bin Azib r.a katanya: Rasulullah s.a.w memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara … Baginda melarang kami memakai cincin atau bercincin emas, minum dengan bekas minuman dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qasiy yaitu dari sutera, serta mengenakan pakaian sutera, sutera tebal dan sutera halus” (Hadis sahih Bukhari-Muslim)
Tidakkah Baginda sadari, keadaan rakyat dan keluarga Baginda sangat sedikit sekali yang patuh pada perintah Allah dalam Al Qur’an maupun dalam hadis Rasulullah yang telah saya sebutkan. Astaghfirullah…Kebanyakan orang yang saya temui selama saya berada disini melanggarnya.”
Bibir Raja terkatup rapat. Bagai dihantam badai yang amat keras, saat itu jiwa baginda terombang-ambing amat keras. Pikirannya bergelut amat hebat, kata-kata Zanimra bagaikan sebuat hantaman dasyat yang membuatnya terbangun dari mimpi. Keterkejutannya membuat raja tak mampu menerima bahwa yang dikatakan Zanimra adalah benar,
“Sungguh kau gadis yang sangat berani Zanimra, tak tahukah kau berada dikerajaanku?”
“Saya lebih takut kepada Allah jika saya berdiam diri melihat seorang yang saya kagumi terbelenggu dalam keadaan lupa wahai Baginda.”
“Aku selalu meminta Abdullah pergi setiap kali dia mulai berbicara tentang hal ini, mengapa kau pikir aku mau mendengarkanmu?” Zanimra tersenyum sedih.
“Yang manakah teman yang baik bagi Baginda? Seorang teman yang mengingatkan Baginda atau seorang teman yang tak ambil perduli akan keselamatan Baginda dari kecelakaan yang sesungguhnya dan kekal?” Baginda terhenyak mendengar pertanyaan Zanimra tanpa bisa manjawab.
“Apa kau pikir aku ini sungguh celaka dan bukan Raja yang bijak.”
“Baginda adalah raja yang bijak, hanya saja baginda lupa… bahwa baginda adalah juga seorang hamba Allah dan Baginda pemimpin dari berjuta hamba Allah yang lainnya, renungkanlah peringatan penuh kasih dari Allah dalam Al-Qur’an;

Surat Yunus: (7) Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, (8) mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.

Surat Ali Imran:185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
“Baginda yang bijak, Anda lupa, bahwa akhirat adalah tujuan sesungguhnya dari manusia, dan sebagai Raja, kepemimpinan Baginda akan dimintai pertanggung jawabannya. Saya sekedar mengingatkan, berhati-hatilah menanti datangnya panggilan Allah di hari kiamat nanti;
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t menggenggam bumi pada Hari Kiamat dan melipat langit dengan tangan kananNya kemudian berfirman: Akulah Raja! Di manakah raja-raja bumi?” (Sahih Bukhari-Muslim)
Surat An Nahl 93. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”
Raja menjadi amat gusar, sebagian hatinya mengakui kebenaran kalimat Zanimra, tapi sebagian hatinya merasa tersinggung.
“Hentikan pembicaraan ini Zanimra, ijinkanlah aku berpikir. Sejujurnya perkataanmu seperti menamparku dengan sangat keras. Berilah aku ruang untuk bernafas. Pergilah sekarang, hadirlah pada jamuan malam kerajaan nanti.”
“Terima kasih Baginda, maafkan saya telah merepotkan, insyaallah saya akan hadir dijamuan kerajaan malam nanti. Assalammualaikum.” Zanimra akhirnya meninggalkan Raja.
“Ah Abdullah, bukan saja gadis itu memporak-porandakan jiwa adikku, sekarang dia juga memporak-porandakan jiwaku!” gumamnya dengan galau pada diri sendiri. Selama hidupnya Raja berpikir bahwa dirinya telah menjadi Raja yang baik, karena keberhasilannya dalam membawa rakyatnya dalam kemakmuran duniawi. Urusan kenegaraan dan agama baginya adalah hal yang berbeda. Dia tidak pernah berpikir sebagaimana yang dituturkan Zanimra, baginya akhirat masihlah sekedar dongeng sebelum tidur yang tidak pernah dipikirkannya secara serius. Lisannya selalu berkata dia muslim dan takut kepada Allah, tapi kenyataannya dia sangat jauh dari Islam, sangat jauh dari Al Qur’an dan alpa akan keberadaan Allah.
Hatinya terpukau penuk kekeruhan, dia tak menyangka seorang gadis biasa dapat berkata dengan lantang tentang kesalahannya. Sunnguh gadis itu tak takut pada dirinya, tapi dia takut pada Tuhan-Nya.
Raja menggapai sebuah Al-Qur’an yang berdebu disudut meja kerjanya, dibukanya secara acak, matanya tertumbuk pada sebuah surat yang berbunyi,

Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Q.S Al An-‘Aam:32)

Tiba-tiba dadanya menjadi berat, hatinya berkecamuk antara pengakuan diri dengan kesombongannya sebagai Raja, ia masih tidak rela menerima bahwa gadis biasa yang lebih muda itu benar perkataannya. Akhirnya Raja menenggelamkan diri pada badai dihatinya yang tiba-tiba berkecamuk.

2 responses »

  1. Subhanallah.. Ini cerita yang amat bagus dan indah, jarang wanita-wanita sekarang seperti itu. Apalagi jaman sekarang sudah banyak sekali setan dan nafsu yang hampir samar-samar tidak bisa terlihat jelas dengan mata.

    Darimanakah asal cerita ini sesungguhnya, mbak Dinot? Bagus sekali ya,, saya hampir melupakan bahwasannya kecantikan itu datang dari hati yang suci dan murni..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s