Selendang Kebesaran Raja

Standard

Makan malampun tiba, semua tamu undangan dan petinggi negara telah hadir dan duduk dimejanya masing-masing. Mereka serentak berdiri menghormati kehadiran Raja, Permaisuri dan Putri Aelia. Setelah ketiga orang utama tersebut duduk, yang lainnyapun kembali duduk. Raja menyapu ruangan dengan seksama, dia terhenyak ketika mendapati sebuah kursi masih kosong.
“Siapakah yang belum hadir disini?” Tanya Raja lantang. Para tamu dan petinggi kerajaan saling berbisik dan melihat ke kanan kiri mereka. Lalu Putri Aleia berbisik pada Raja,
“Zanimra yang belum hadir.” Raja sangat gusar dibuatnya.
“Pelayan, cepat cari gadis itu dan bawa dia kemari!” Titah Raja kemudian, dia merasa terhina dengan kejadian itu.
Tak lama kemudian Zanimra muncul dengan langkah yang cepat. Serta merta seluruh pandangan tertuju tajam padanya. Zanimra berhenti disebelah kursinya, lalu dengan sangat tenang dia berkata,
“Beribu maaf atas keterlambatan saya Baginda.”
“Apa alasan dari keterlambatanmu ini Zanimra?”
“Sekali lagi saya minta maaf, sewaktu saya sedang bersiap untuk hadir disini, saya mendengar adzan tanda waktu shalat tiba, maka dari itu saya shalat terlebih dahulu.”
“Tidak tahukah bahwa dirimu telah menghinaku, dengan menghinaku kau juga menghina seluruh kerajaan ini?”
“Sungguh bukan maksud saya berbuat demikian.”
“Zanimra, bukankah kau tahu bahwa shalat terakhir (Isha) sangat panjang waktunya? Mengapa tidak kau tangguhkan dulu, tidakkah kau menghormati undanganku ini?”
“Demi Allah, bukan maksud saya menghina Paduka, tapi…”
“Zanimra? Ketahuialah, terlambat dari undangan makan seorang Raja berarti telah mengina Raja dan seluruh rakyatnya!”
“Astaghfirullah, sekali lagi saya minta maaf dan Demi Allah saya tidak bermaksud menghina siapapun. Jika Baginda masih murka juga, maafkan jika saya bertanya, Masya Allah, apakah Baginda menganggap diri Baginda lebih tinggi dari pada Allah?”
Serta merta seluruh ruangan riuh rendah mendengar pertanyaan Zanimra yang sangat berani. Tak urung Raja membelalakkan matanya, begitupun Putri Aleia dan Permaisuri.
“Zanimra! Apa maksud dari perkataanmu itu?!!” Tanya Raja dengan nada meninggi. Zanimra memandang tepat kearah Raja lalu berkata dengan merendahkan suaranya tanpa rasa takut.
“Maaf Baginda, saya mendengar dua panggilan secara bersamaan, yang satu datang dari seorang pemimpin yang saya hormati, dan yang satu lagi datang dari Tuhan yang saya takuti. Jika saya memilih untuk memenuhi panggilan dari Baginda, maka sama saja saya meletakkan keberadaan Baginda diatas Allah.”
“Astagfirullah!!!” Teriak Raja kemudian. Tubuhnya menggigil karena rasa terkejut yang hebat. Serta merta keadaan menjadi riuh rendah, para petinggi kerajaan sangat terkejut dengan keberanian tamu undangan Raja tersebut.
“Berani sekali kau terhadap Raja!” Teriak beberapa orang petinggi kemudian dengan geram. Suasanapun menjadi riuh rendah dengan ucapan keheranan.
Ditengah suasana yang kritis itu masuklah Abdullah bersamaan dengan Ali. Mereka tertegun melihat keadaan ruangan yang sedemikian rupa, terlebih lagi ketika melihat sosok Zanimra yang masih berdiri dan Raja yang juga berdiri dengan tatapan tajam kearah Zanimra.
“Kau benar-benar tidak menghormati Raja! Bersyukurlah jika Raja tidak menghukummu!” Teriak seorang petinggi lagi. Abdullah dan Ali yang mendengar teriakan itu menjadi panik.
“Diamlah kalian!” Teriak Raja kemudian menggelegar keseluruh ruangan, serta merta seluruh ruangan menjadi sunyi. Raja menatap Zanimra dalam-dalam, tak ada rasa takut atau gusar sedikitpun terpancar dimata Zanimra.
“Baiklah Zanimra.” Lanjut Raja kemudian,
“Sekarang apa usulmu? Apakah sebaiknya sekarang sebaiknya kami semua meninggalkan meja makan ini dan shalat terlebih dahulu?”
“Tidak, Baginda.” Keadaan menjadi riuh rendah kembali mendengar jawaban ‘tidak’ dari Zanimra.
“Bukankah kita harus mendahulukan shalat diatas apapun?”
“Sungguh Baginda, Allah adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Allah juga Maha Bijaksana.
“Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila makanan dihidangkan kepada kamu sedangkan sembahyang hendak didirikan, maka hendaklah kamu makan terlebih dahulu. Janganlah kamu terburu-buru hinggalah kamu selesai makan.” (Sahih Bukhari-Muslim)
Saya melaksanakan shalat terlebih dahulu karena saya jauh dari meja ini sehingga saya belum melihat hidangan ini tersaji. Sedangkan Baginda dan yang lain telah berada disini, maka sebaiknyalah Baginda makan terlebih dahulu.”
“Mengapa demikian? Apa alasannya?”
“KarenaAllah ingin hambanya menghadap dengan sepenuh hati tanpa memikirkan makanan yang telah terhidang dimeja atau merasakan perut yang terus menggoda.”
“Siapakah diantara kalian yang tahu akan hadis dan ketentuan ini?” tanya Baginda kemudian kepada semua yang hadir. Dari 70 orang yang ada hanya sembilan belas orang yang mengangkat tangannya termasuk Ali dan Abdullah. Pada saat itu kehadiran Abdullah dan Ali baru sisadari. Mata Putri Aelia langsung tertumbuk pada Ali, hatinya kecut ketika dilihatnya Ali tengah memandang Zanimra sambil tersenyum.
Raja masih tetap berdiri mematung, tiba-tiba air mata meleleh membasahi pipinya. Pemandangan itu sangat mengejutkan seluruh penghuni ruangan. Dia menyadari betapa dia telah membiarkan diri dan rakyatnya begitu jauh dari Islam, dari 70 orang petinggi yang hadir, tidak ada setengahnya yang mengetahui akan kesalahan mereka, dan meskipun mereka tahu, mereka tetap melanggarnya karena lebih takut kepada dirinya daripada kepada Allah.
“Hai Zanimra, sungguh apa yang kau katakan sore tadi dan malam ini adalah benar adanya. Demi Allah aku bertobat!” Katanya kemudian dengan gemetar.
“Makanlah kalian semua, setelah itu adakan shalat Isha berjama’ah.”
Akhirnya makan malam berlangsung dengan sangat sunyi karena Raja nampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Wajahnya terus tertunduk lesu.
Setelah shalat Raja mengumpulkan semua orang di Balai Kerajaan lalu memperkenalkan Zanimra sebagai tamu undangannya.
“Wahai orang-orang kepercayaanku, sesungguhnya Zanimra ini adalah cahaya matahari yang singgah dikerajaan ini untuk membagikan cahayanya. Hormatilah dia sebagai tamu istimewa dan kasihilah dia sebagai salah satu anggota keluarga besar kerajaan ini.” Lalu baginda menyampirkan selendang kebesarannya pada Zanimra sebagai tanda penghormatan dan pengakuan Raja. Selendang kebesaran Raja adalah pengakuan kerajaan bagi Zanimra sebagai salah seorang anggota keluarga kerajaan. Melihat hal itu Abdullah dan Ali saling memandang, keduanya mengucap syukur dan pujian kepada Allah tak henti-henti. Dengan demikian Raja telah mengakui keberadaan Zanimra dan merestui hubungannya dengan Ali.
Dilain pihak Putri Aelia menggigil hebat menahan gejolak yang berkecamuk di dalam jiwanya. Raja menyadari hal itu, lalu dengan perlahan dia mengisyaratkan Permaisurinya untuk membawa Putri Aleia keruangan lain.
“Zanimra, selamat bergabung sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan, kedudukanmu di kerjaan ini adalah setaraf dengan bangsawan tertinggi.”
“Alhamdulillah, subhanallah…segala puji bagi Allah. Terima kasih yang tak terhingga kuucapkan kepadamu Baginda.”
“Ali, Abdullah dan Zanimra. Ikutlah denganku.” Lalu Raja meninggalkan singgasananya menuju ruangan tempat Putri Aelia dan Permaisurinya berada.
Disana Putri Aelia tengah menyembunyikan wajahnya dipelukan Permaisuri. Menyadari kedatangan Raja dia melepaskan diri dari pelukan Permaisuri dan berdiri dengan tegar, tampak sekali dari wajahnya, Putri Aelia berusaha sekuat tenaga membendung air matanya. Harga diri sebagai seorang Putri masih dia pertahankan hingga saat-saat terakhir. Tapi Raja sangat mengenal adiknya. Ia mendekati adiknya lalu membelai kepalanya dengan lembut.

“Adikku Aelia. Maafkan Aku.” Bisik Raja kemudian.
“Percayakah kau bahwa Aku akan menyakitimu?” tanyanya lagi pada adiknya yang dijawab gelengan lemah oleh Putri Aelia.
“Apakah menurutmu keputusanku ini keji dan tidak adil bagimu?” Lagi-lagi Putri Aelia menggeleng.
“Relakah kau menerima keputusanku?” Kali ini Putri mengangguk
“Aku tahu dari tatapan matamu bahwa sejak kedatanganmu bersama dengan Zanimra, kau telah mengakui kekalahanmu. Hanya saja kau tak mau menerimanya. Saat ini akupun tak berdaya untuk menolak kenyataan bahwa Zanimra dengan telak telah melumpuhkan aku didepan rakyatku sendiri. Aku harus mengakui bahwa Ali memiliki alasan yang kuat dan Zanimra telah membuktikan dirinya.”
“Sudahlah Kak, aku mengerti.” Kata Putri dengan lemah, lalu dia memandang nanar kearah Ali dan Zanimra.
“Kuucapkan selamat bagi kalian berdua. Maafkan aku yang selama ini menyusahkan kalian.” Kata putri dengan nada datar dan pandangan yang dingin. Dengan langkah pasti dia berbalik. Ali menundukkan kepalanya, Zanimra lalu membisikan sesuatu pada Ali.
“Ada sesuatu yang ingin kau katakan Zanimra?” Tanya Baginda ketika melihatnya.
“Maaf, Baginda. Jangan berburuk sangka dahulu. Jika diijinkan, saya ingin menyusul Putri Aelia untuk berbicara padanya.”
“Apakah kau pikir itu bijak? Sedangkan karenamulah dia hancur. “Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan membuat adikku itu lebih hancur?”
“Tidak Baginda.”
“Lalu? Kau akan merelakan Ali padanya?”
“Tidak juga.”
“Mengapa? Karena kau takut kau yang akan hancur?”
“Bukan karena itu Baginda.”
“Jelaskan padaku.”
“Karena bukan saya ataupun Ali yang membuat Putri hancur, tapi rasa cintanya itulah yang membuat dia demikian. Meskipun Putri mendapatkan Ali, rasa cintanya tetap akan membakarnya dalam derita.”
“Apa dalihmu tentang itu?”
“Pernahkan Baginda mendengar pepatah atau syair-syair masyur tentang cinta?”
“Katakan padaku.”
“Cinta, tawanya sehari tangisnya seribu tahun.”
“Banyak manusia setuju bahwa cinta itu memang begitu adanya, Cinta butuh pengorbanan dan penuh penderitaan. Dan masih banyak pepatah lain yang melukiskan kepedihan cinta.”
“Ya, aku mengerti. Lalu?”
“Sesungguhnya anggapan kebanyakan manusia itulah yang telah menyesatkan arti dari cinta hakiki yang sesungguhnya. Cinta menjadi bumerang karena manusia sangat salah menilai tentang cinta. Cinta bagi kebanyakan manusia bukan lagi sekedar perasaan hati, tapi sudah menjadi tuhan yang menguasai tubuh dan jiwa, hidup dan mati mereka. Kecelakaan apakah yang lebih besar daripada menuhankan yang lain selain Allah?”
Raja untuk kesekian kalinya dibuat diam oleh Zanimra.
“Ijinkanlah Zanimra berbicara dengan Putri Aelia, Baginda.” Pinta Ali dan Abdullah hampir berbarengan. Akhirnya Rajapun menganggukan kepalanya dan Zanimrapun melangkah pergi
“Zanimra…” Panggilan raja yang tiba-tiba menghentikan langkah Zanimra.
”Terima Kasih.” Lanjut Raja. Zanimra menganggukan kepala lalu bergegas pergi.
Sebaiknya kita kembali ke Balai Kerajaan, tamu yang lain masih menunggu.” Ujar Raja sambil melangkah. Ali dan Abdullah mengikuti dibelakangnya.

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s