Cinta Yang Hakiki

Standard

Dari salah seorang dayang Zanimra mengetahui bahwa Putri pergi ke danau dibelakang istana. Sesampai disana Zanimra menemukan Putri Aelia sedang duduk dengan menenggelamkan wajahnya dalam-dalam disela lututnya. Cahaya lentera membias redup disepanjang tepian danau, kunang-kunang terbang berkeliling dengan indahnya. Tapi keindahan itu tak dapat mengalahkan kecantikan putri yang tengah kalut hatinya.
“Assalammualaikum.” Salam Zanimra dengan hati-hati. Putri Aelia tersentak dan melihat kearah Zanimra dengan sangat tajam. Tampak pipinya yang putih mulus basah degan air mata.
“Apa tujuanmu kemari? Ingin melihatku menangis? Atau ingin mengejek kekalahanku?” Tanyanya ketus.
“Apakah seburuk itu tabiat saya dimata Putri?”
“Tidak perlu bersopan santun saat ini, aku sungguh muak.”
“Baiklah, maafkan aku.” Putri tidak menjawab, dia hanya membuang muka.
“Putri, aku tahu kau marah dan benci padaku. Maka dari itu aku datang kemari untuk kau caci dan kau maki agar lega hatimu.”
“Apa kau juga ingin aku membunuhmu?” sahut Putri Aelia semakin ketus.
“Apa kau ingin melakukannya?”
“Tidak, Aku lebih ingin membunuh diriku sendiri.”
“Astaghfirullah…” bisik Zanimra pelan mendengar keputus asa-an Putri.
“Putri, pukulah aku jika itu bisa meringankan bebanmu.”
“Zanimra! Mengapa kau seperti ini? Dari pertama kali aku bertemu denganmu sebenarnya aku telah menyadari aku telah kalah, semakin hari aku bersamamupun aku semakin tahu dirimu dan apa yang kuketahui malah membuatku kagum padamu!
Ya! Aku membencimu karena kau sungguh beruntung! Aku membencimu karena kau lebih dari aku!”
“Putri…aku mengerti akan perasaanmu…” Tiba-tiba Putri Aelia memotong perkataan Zanimra dengan nada yang amat tinggi.
“Jangan kau mengatakan padaku bahwa kau mengerti akan perasaanku! Tahu apa dirimu tentang hancurnya hatiku?”
“Sesungguhnya aku tidak selalu seperti sekarang ini. Hanya karena Kasih Allah-lah aku bisa kembali untuk menyembah Allah. Lembaran kehidupanku memiliki coretan-coretan hitamnya sendiri. Kehilangan demi kehilangan aku rasakan beberapa kali. Kehancuran dan kegelapan kuhadapi dengan amarah dan kebencian. Jadi, aku memang tahu akan apa yang kau rasakan karena aku pernah sepertimu sekarang ini.”
“Aku memang tak seberuntung dirimu! Bahagiakah kau sekarang karena membuatku begitu iri padamu?”
“Sesungguhnya Putri tidak perlu iri, tidakkah putri menyadari bahwa yang ada padaku sebenarnya dapat diraih oleh semua orang, sedangkan kelebihan yang ada pada dirimu hanya dirimulah yang dapat meraihnya?”
“Apa maksudmu?”
“Apa yang kumiliki dapat juga kau miliki, tapi kelebihan yang kau miliki tak akan pernah dapat aku raih selama hidupku didunia ini. Sesungguhnya kau tak perlu mengeluh karena Allah Maha Adil.”
“Benarkah Allah Maha Adil? Dimanakah keadilan yang kau lihat itu?”
“Putri, kau bisa menjadi aku yang sekarang ini. Merubah jalan pikiran, merubah tingkah laku dapat dilakukan semua orang jika mereka benar-benar berusaha. Tapi, apakah orang bisa merubah dirinya menjadi secantik dirimu?”
“Jika kecantikan yang kumiliki ini dapat kugadaikan demi mendapatkan Ali, maka aku akan senang melepaskannya!”
“Jikapun kau menggadaikan kecantikanmu dan mendapatkan Ali, kau tetap tak akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.”
“Bagaimana tidak? Jika hidupku adalah Ali?”
“Karena Ali yang akan kau dapatkan bukanlah Ali yang sekarang ini kau kenal.”
“Dengan kata lain kau berkata bahwa Ali tak akan pernah mencintaiku walaupun telah kugadai kecantikanku?”
“Putri, walaupun wajah dan tubuhku dapat menghibur hati Ali, tapi bukanlan wajah atau tubuhku yang membuat Ali mencintaiku.”
“Sungguh lidahmu licin seperti Ali, tutur katamupun tak ubahnya seperti tutur katanya. Berbaik hatilah padaku Zanimra, katakan kepadaku apa yang membuat Ali mencintaimu?”

“Yang membuat Ali mencintaiku adalah karena caraku mencintainya.”
“Bagaimana caramu mencintainya hai Zanimra?”
“Aku mencintainya karena Ali mencintai Allah.”
“Allah….Allah…selalu itu yang terucap dibibirmu dan Ali, sebegitu besarkah cinta kalian pada-Nya, bagaimana jika Allah memisahkan kalian berdua, apakah kau masih mencintai Allah?”
“Ya,”
“Mengapa?”
“Karena kami percaya apapun keputusan Allah adalah yang terbaik bagi hambanya.”
“Mengapa kau sepasrah itu?”
“Karena Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil dan Bijaksana.”
“Zanimra, jika kau mencintai Ali, tidakkah kau akan merasa sakit jika Allah mengambil Ali darimu?”
“Tentu.”
“Lalu kau masih berpikir Allah mencintaimu?”
“Ya.”
“Mengapa? Bukankah Allah telah membuat hatimu sakit?”
“Karena aku masih memiliki cinta kepada Allah. Dengan mengingat Allah maka jiwaku merasa tenang.”
“Sungguh kau dusta! Kau tak mengerti cinta! Kau tak mencintai Ali sebesar aku mencintainya! Dan mengapa Ali masih memilihmu?!” Teriak Putri Aelia dengan geram.
Zanimra tertegun sedih karena merasa kasihan pada Putri Aelia yang sedemikian marahnya sehingga buta akan kebenaran. Dengan lembut Zanimra menjawab.
“Tidakkah kau bisa mengambil kesimpulan wahai Putri yang cerdas, cinta yang terjalin diantara kami dikarenakan kecintaan kami kepada Allah. Cinta kami kepada Allah diatas cinta kami kepada apapun atau siapapun, bahkan diatas cinta kami berdua.” Zanimra menarik nafas lalu melanjutkan,
“Cinta dunia bukanlah yang kami kejar, kami merasa cukup dan tenang dengan keduniaan yang kami dapatkan, karena Allah telah menetapkan takarannya sedari mula kita diciptakan. Akan tetapi kami tak akan pernah merasa cukup dengan rasa rindu dan cinta kami kepada Allah dan hari kemudian. Kami berdua memiliki tujuan yang sama dalam hidup, untuk bersama berjuang dijalan Allah dan menjadi hambaNya.”
“Apapun yang aku lakukan didunia ini hanya karena Allah, aku mencintai Alipun juga karena Allah. Jika Allah mengambil Ali, maka aku percaya itu yang terbaik bagi diriku. Aku mencintai Allah bukan karena Ali, tapi aku mencintai Ali karena Allah.”
“Sungguh jika benar demikian, cintamu pada Ali palsu! Dan ketetapan Allah itu kejam dan keji!”
“Astaghfirullah………” Mata Zanimra berkaca mendengar kalimat Putri. Kesedihannya bertambah melihat syaitan semakin menguasai hati rapuh Putri Aelia.
“Sungguh Putri, Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
“Jika memang demikian. Mengapa Allah memberikan aku begitu banyak derita padahal aku selalu berbuat baik pada sesama.”
“Karena cinta yang kau kenal adalah salah.”
“Apa maksudmu?”
“Putriku yang bijak, kekalkah diri kita ini?”
“Tidak.”
“Kekallah kecantikanmu hingga akhir jaman?”
“Tidak.”
“Kekalkah Ali?”
“Tidak.”
“Tidakkah kau mengerti juga? Apapun yang kita dapati didunia ini tidaklah kekal dan memiliki akhir. Hanya Allah yang Maha Pengasihlah yang Kekal, maka dari itu Allah Maha Mengetahui dan Mengerti akan ciptaan-Nya. Masihkah kau tak mengerti?”
“Zanimra, jangan cemooh kecerdasanku. Aku telah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang amat aku cintai berulang kali, ayahku, bundaku, dan kini Ali. Mengapa Allah mempertemukan aku dengan Ali jika aku tak bisa memilikinya. Tidak perdulika Allah jika hal itu akan menghancurkan jiwaku? Bagaimana aku bisa percaya Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Mengerti akan ciptaan-Nya jika kepedihan hatiku ini tak tertahankan dan terjadi berulang-ulang?”
“Sesungguhnya Engkau telah menjawab pertanyaanmu sendiri duhai Putri yang Cantik.” Putri Aelia terhenyak lalu menatap Zanimra dengan tajam.
“Apa maksudmu?”
“Putri, Kau merasakan pilu dan sakit yang sangat dalam karena kehilangan mereka yang kau cintai, sekarang aku bertanya padamu.” Zanimra merapatkan dirinya lalu memegang lembut wajah Putri Aelia dan berkata lirih penuh kesungguhan.

“Apakah Engkau akan merasakan sakit jika yang kau cintai itu KEKAL?”
“Tidak.”
“Adakah makhluk atau benda dibumi ini yang kekal?”
“Tidak…” Putri Aelia terperangah dengan jawabannya sendiri, kemarahan diwajahnya tiba-tiba pecah dan luruh. Mata yang semula penuh kebencian dan kekecewaan kini berkaca-kaca. Pertanyaan Zanimra seperti tamparan yang membuatnya tersadar dari mimpi buruk yang panjang.
“Dan siapakah yang kekal dan tak akan meninggalkanmu?”
Bibir Putri bergetar tak mampu menjawab pertanyaan Zanimra, dengan lembut Zanimra berbisik,
“Laa illaa haillallaah.” Lalu ia melanjutkan,
“Apakah kejam dan keji jika Allah memintamu untuk mencintai Dirinya Yang Maha KEKAL?”
“T…i…dak…” Jawab Putri Aelia semakin melambat, airmatanya yang menggenang dipipinya bergulir membasahi pipinya yang putih dengan derasnya. Zanimra semakin melembutkan suaranya melanjutkan pertanyaannya.
“Mengapa wahai Putri yang bijak?”
Tangis Putri pecah hingga tubuhnya bergetar hebat,
“Duhai Zanimra, karena Allah ingin Menjagaku dari rasa sakit yang amat sangat seperti yang telah dan tengah kurasakan ini.” Jawab Putri Aelia dengan terbata disela isak tangisnya.
“Alhamdulillah….subhanallah…tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah.
Q.S. Al Baqarah : 165. Dan diantara manusia itu ada yang mempertuhankan sesuatu yang lain daripada Allah sebagai tuhan-tandingan; dicintainya seperti mencintai Allah. Orang yang beriman hanya mencintai Allah semata…”
Zanimra bertasbih penuh rasa syukur akan kebersaran Allah tuhan semesta alam.
“Duhai Zanimra, aku telah hidup dalam kesesatan yang nyata dengan mata buta dan telinga yang tuli.” Tangisnya semakin menjadi, Putri Aelia menjatuhkan dirinya pada pelukan Zanimra.
“Sungguh Cinta Hakiki hanyalah pada Allah semata. Kasihilah manusia karena Allah, maka hidupmu akan tenang.”
Setelah tangisnya sedikit reda, Putri Aelia berkata lirih,
“Sungguh sekarang aku mengerti mengapa Ali mencintaimu, karena Ali percaya kau akan menjaga cintanya kepada Allah.”
“Dan begitupun sebaliknya Putri, aku mencintai Ali karena dia akan menjadi pemimpin yang baik bagiku untuk menuju cinta Allah.”
“Zanimra…bernjanjilah padaku satu hal.”
“Jika aku bisa. Insyaallah”
“Ajari aku bagaimana mencintai Allah dan panggilah aku adik karena begitu ingin aku mengikat tali persaudaraan denganmu.”
“Insyaallah, aku sendiripun sedang belajar unutk mencintai Allah, duhai Putri,”
“Katakan padaku, apa yang pertama kali harus kulakukan untuk menunjukan rasa cintaku kepada Allah.” Zanimra tersenyum penuh haru, ditariknya selendang yang tersampir dibahu putri. Dengan halus Zanimra menutup rambut dan pundak putri hingga nampak wajahnya yang putri saja dari balik selandang itu.
“Kepatuhan akan Perintah-Nya adalah tanda cinta kita pada Allah.”
“Sungguh ajaib cinta kepada Allah wahai Zanimra, seluruh badai dalam jiwaku luruh berganti dengan ketenangan dan kebahagiaan yang nyata dalam sekejap. Sekarang aku mengerti mengapa kau selalu terlihat tenang.” Putri Aelia menggengam erat tangan Zanimra lalu menariknya setengah berlari menuju balai kerajaan.
Setibanya disana, berpuluh mata tertuju pada dua sosok wanita itu. Seluruh penghuni ruangan amat terkejut melihat penampilan baru Putri Aelia dengan kerudungnya. Kulitnya tubuh yang putih bersinar kini penuh tertutup, rambutnya yang panjang dan hitam legampun tersembunyi dibalik kerudung putihnya. Sedangkan disudut lain, Abdullah dan Ali tersenyum penuh haru. Sedangkan Raja tertegun keheranan seperti yang lain, melihat perubahan Putri Aelia yang begitu cepat.
Dengan tenang dan anggunnya Putri Aelia melangkah mendekati singgasana Raja.
“Wahai Aelia adikku, sungguh sekarang kau mengejutkan aku. Apa yang terjadi padamu?”
“Duhai kakakku Raja dari negri ini, aku mendapat cahaya matahari ditengah malamku yang gelap dan penuh badai.”
“Dan bagaimanakah keadaanmu saat ini?”
“Terang dan damai dengan sirnanya kegalapan dari jiwaku.”
“Sungguh, cahaya matahari yang bagaimanakah yang kau telah dapatkan?”
“Cahaya Cinta yang Hakiki.”
“Cinta Hakiki?” Tanya Raja penasaran,
“Cinta yang sama yang dimiliki Zanimra.”
“Maksudmu Ali?” Raja tampak agak terkejut,
“Bukan.” Jawab Putri Aelia mantap,
“Bukankah cinta yang dimiliki Zanimra adalah Ali?”
“Benar duhai Kakakku Raja dari negri ini, tapi yang kudapati adalah cinta diatas cinta Zanimra pada Ali.”
“Dan siapakah itu?” Raja tertegun.
“Cinta kepada Allah.” Jawab putri dengan rasa haru, Raja tersenyum bahagia dan bertasbih penuh syukur.
“Terima kasih kuucapkan padamu Zanimra, sungguh akupun merasa malu padamu dan Ali. Kecintaan kalian pada Allah menyadarkan aku betapa selama ini aku memimpin negriku dengan kecintaan pada dunia semata. Jikalah Allah bukan Tuhan Yang Maha Pengasih, tak akan didatangkan Ali dan dirimu untuk membuka mataku.”
“Kerajaan ini adalah kerajaan Islam, tapi penduduknya kebanyakan melupakan Tuhannya. Sungguh celaka diriku dihari akhir nanti jika aku masih memimpin kerajaanku seperti sekarang ini. Allah akan menghukumku dengan sangat pedih karena kesombonganku dan kelalaianku sebagai seorang pemimpin.”
Raja kemudian memanggil Ali.
“Ali abdul Jabbar bin Abdullah, menghadaplah kepadaku.”
Alipun keluar dari sela-sela kerumunan petinggi kerajaan.
“Apakah Kau dengar dengan jelas apa yang kukatakan barusan Ali?”
“Ya! Baginda, dan saya berterima kasih atas pujian Baginda, Alhamdulillah.”
“Apakah kau setuju dengan yang kukatakan?”
“Ya, saya setuju Baginda.”
“Kalau begitu, bersediakah kau membantuku menata kembali kerajaan ini di jalan Allah?”
“Insyaallah, sebagai seorang muslim saya berkewajiban kepada tanah air, saya bersedia.”
“Baiklah, sebagai pemimpin kerajaan ini kuperintahkan dirimu tinggal di istana sebagai Penasihat Utamaku.” Lalu raja mengalihkan pandangannya pada Zanimra,
“Zanimra.”
“Saya Baginda.”
“Sungguh kau adalah satu-satunya wanita yang berani menentangku di atas meja makanku sendiri. Kukagumi keberanianmu dan kukagumi kecerdasanmu. Entah apa yang kau lakukan sehingga dalam sekejap adikku tak mau melepaskan tangannya darimu. Begitu cepat kau rubah kebencian dengan kecintaan.”
“Segala Puji hanya bagi Allah. Sungguh Allah-lah yang Maha Kuasa dalam menentukan perubahan, saya hanyalah seorang hamba yang hina dari-Nya. Atas Kasih dan Kuasa Allah sajalah Putri menemukan kebahagiaan pada cintanya yang hakiki.”
“Sungguh kau telah mengajarkan aku apa itu kesombongan Zanimra! Dan aku sungguh hamba yang celaka karena kesombonganku kepada Allah. Kupikir selama ini aku Raja yang bijak, tapi ternyata pujian rakyat dan kerajaan tetanggaku membuat aku lupa bahwa aku ini hanyalah seorang hamba yang hina dari Tuhan-Nya.” Mata Raja berkaca-kaca, dengan lembutnya terdengar suara Ali melantunkan ayat-ayat dari Al-Qur’an, Al Hadid : 20-23;

20. “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

21. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu (sukses yang telah kamu capai). Dan
Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”

“Astagfirullah……” tiba-tiba Raja tersungkur dan bersujud dilantai sambil menangis. Serentak seluruh penghuni ruangan hingar bingar penuh keterkejutan. Ali, Abdullah dan Zanimra ikut bersujud diikuti oleh Putri Aelia yang kembali menangis. Satu demi satu bangsawan yang hadir menundukan dirinya. Rasa hormat dan rakyat pada Raja sangatlah besar karena kebaikan budinya dan kebijaksanaannya selama ini, mereka merasa takjub melihat junjungannya tersungkur mencium tanah dengan tubuh gemetar ketakutan. Perasaan Raja terbias menembus nurani pengikutnya, satu demi satu merekapun turut menjatuhkan diri kelantai dan bersujud.
Pada hari itu, nama Allah diagungkan dan pada hari itulah kerajaan Andimarsedonia diberkahi. Raja merayakan pernikahan Ali sebagai hadiah bagi Ali dan Zanimra. Zanimra diangkat sebagai Penasihat umum kaum wanita kerajaan. Semenjak hari itu kerajaan Andimarsedonia menjalankan roda pemerintahan dibawah panji bendera Islam secara menyeluruh. Pembimbingan akhlak diutamakan bagi seluruh lapisan ma
syarakat.
Sungguh Cinta yang Hakiki dan kekal kebahagiaannya hanyalah cinta kepada Allah semata. Allahuakbar.


………………SELESAI………………..

3 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s